GURUKU PERMATAKU

GURUKU PERMATAKU

Oleh: Ai Sumartini Dewi

Pagi itu kumulai aktivitasku seperti biasa. mulai dari bangun pagi, beres-beres rumah, mandi, sarapan, dan berangkat kesekolah dengan angkutan yang biasa kunaiki, yaitu sepeda mini kesukaanku. Sepeda itu adalah sepeda kebanggaanku karena kubeli dengan jerih payah sendiri, mulai menabung sedikit demi sedikit.Sampai akhirnya setelah melewati beberapa waktu barulah sepeda mini impianku kubeli.

“Mami, Indah berangkat dulu ya….” sahutku pada ibu.

“Hati-hati, sayang…” ibu menjawab tanpa kulihat sedang berada di mana ibuku itu.

“Ok mamiku sayang….Indah pasti hati-hati” sahutku sambil mulai kugayuih sepedaku menuju sekolah yang letaknya lumayan jauh. Setelah melewati satu belokan, aku mulai melihat beberapa temanku yang hendak berangkat sekolah juga.

“Hai, Indah….” sapa Ani temman sekelasku yang sedikit tomboy.

“Hai juga…” sahutku dengan tenang.

“Aku duluan ya…..piket pagi nih…” kataku.

“ok….” sahut Ani .

Pukul 6.40 aku tiba d sekolah dengan nafas sedikit ngos-ngosan..karena memang tadi agak kenceng kugayuh sepedaku.Aku masuk dan menyimpan tasku di meja. Tiba-tiba Endang teman piketku berbicara.

“Indah…aku dah nyapu…sekarang giliran kamu ngambail airya…buat cuci tangan Bu Guru.”

Tanpa kujawab aku langsung mengambil ember kecil yang terletak disudut meja. Aku berjalan menuju kran yang terletak di depan musholla, dan kuisi ember yang kecil itu 2/3nya. Setelah itu aku kembali ke kelas.

” Anak-anak…hari ini Bu Laras nggak akan ngajar kalian….” Bu Lasmi yang berbicara. Aku bingung.

Kemarin sore aku lihat Bu Laras baik-baik aja . Tak terlihat sedikitpun sakit.

Lalu aku menyimpan ember yang berisi air, kemudian duduk dan kuperhatikan Bu Lasmi berbicara.

“Kemarin sore…sepulang Bu Laras dari Toko buku Beliau terpeleset di trotoar jalan dan menyebabkan kaki kanannya keseleo” demikian Bu Lasmi menambahkan.

“Jadi untuk sementara kalian akan diajar oleh Ibu…..” tambah Bu Lasmi.

Baru kuingat kemarin aku juga nganter ibu beli buku untuk kaka dan ketemu Bu Laras yang katanya sedang membeli buku buat diceritakan kepada kami. Aku gembira saat itu karena Ibu yang kusayangi besok akan menceritakan sebuah fiksi yang menurut ibu Laras sangat bagus untuk seusia kami.

Bu Lasmi terus mengajar tanpa sedikitpun aku mengerti apa yang diajarkan Bu Lasmi.Pikiranku terus membumbung memikirkan Bu Laras yang cantik, baik, pengertian, dan tidak pernah mara sekalipun anak-anak di kelas kami cukup terkenal nakal.

Sampai pelajaran hari itu selesai dan waktunya pulang…..tak sedikitpun pikiranku bergeming. Akhirnya aku memutuskan untukl pergi ke rumah Bu Laras sendiri dulu. Aku ingin melihat keadaan Bu Laras yang katanya kakinya keseleo. Terbayang wajah cantiknya yang sedang meringis kesakitan saat akan berjalan.

Aku terus menggayuh sepedaku menyusuri jalan menuju rumah Bu Laras. Tiba di depan rumah Bu Laras aku terkejut karena rumah Bu Laras penuh dikerubungi oleh orang. Pikiranku dah jelek….” Jangan -jangan……” ah kutepis pikiran itu dari kepalaku. “nggak mungkin keseleo bisa m,enbuat seseorang meninggal”gumamku.

Aku mendekati rumah itu, dan ternyata….O Tuhanku…..Bu Laras yang aku sayangi terbaring lemah tak berdaya.Melihat keadaan seperti itu, aku tak kuasa untuk menghampiri Bu Laras. Kakiku terpaku sambi memegang sepeda.

***

“Kenapa sayang..? kakinya nggak apa-apa kan? seorang perempuan cantik menghampiriku. Aku menggeleng sambil memberdirikan sepeda . Perempuan cantik itu mengahampiriku lagi,” Sayang kalo belom bisa berdiri, sini kaka bantu” ujarnya. Aku menurut saja apa yang dikatakan perempuan cantik itu. Beliau menuntun sepedaku sambil menggandeng pundakku.

“Rumahnya dimana? Dia bertanya.

“Jalan Rosno 22…”. sahutku

“ok kaka anter ke rumah ya…..sepertinya kaki ade terkilir” sahutnya tanpa meminta persetujuanku.

Dia mengantar aku ke rumah. Sesampai di rumah Ibu berteriak kaget.

” Kenapa Indah?…”

” Ini tante tadi saya lihat putri ibu terserempet motor dan sepedanya jatuh” sahutnya.

“Maaf perkenalkan saya laras……yang tadi menemukan putri ibu jatuh.” Dia memperkenalkan diri sebelum ibu memulainya.

“O iya…ya…maaf Ibu lupa, abis ibu kaget lihat Indah tiba-tiba digandeng begitu.”Ibuku berbicara kepada perempuan yang bernama laras itu.

O jadi namanya Kak Laras…..gumamku dalam hati

Setelah agak lama Ibu berbincang sama kak Laras…akhirnya Kak laras pamit untuk pulang.

“Sayang..Kaka pulang dulu ya….semoga lekas sembuh”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

***

“Nak kenapa?” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku

Aku tersentak kaget:” Emmhmhmmm nggak apa-apa kok Bu.”

“Ade muridnya Bu laras ya……Sini masuk” ujarnya sambil menggandeng tanganku yang masih dingin karena kaget.

“Laras…ini ada muridnya” ujar Ibu itu

“Siapa Ma….”Bu Laras terdengan lemah

“Indah Bu, ” aku menjawab.

“O Indah..sini sayang…..maaf ya…Ibu belom bisa masuk” Bu Laras berusaha untuk bangun dari tidurnya.

“Ibu jangan dulu bangun” aku mencoba membujuk Bu Laras agar tetep dalam posisi tidur karena terlihat masih lemah.

“Nggak apa-apa kok sayang…..Ibu dah mendingan.”sahutnya.

“Ibu….maaf saya kesini sendiri….soalnya ingin tau keberadaan ibu terlebih dulu, temen-temen paling besok….setelah Indah kasih tau.”ujarku

“Udah nggak usah repot-repot, Ibu dah sembuh kok…..kan dah ditengok Indah…..” kata Bu Laras

Aku tersanjung mendengar ucapan Bu Laras.

“Tadinya saya khawatir Ibu kenapa-napa?” aku memulai pembicaraan lagi.

“Emang Ibu jatuh dimana? kok sampe parah banget.” aku bertanya lagi.

Bu Laras menceritakan kejadiannya tanpa terlewatkan sedikitpun. bahwa sepulang dari toko buku kemaren….waktu mau nyebrang jalan raya…tiba-tiba terpeleset kulit pisang. Kemudian jatuh ke jalan raya, pas di jalan raya ternyata ada beca lewat menggilas kakinya.

Sambil bercerita Bu Laras mengusap kakinya yang kemarin terlindas beca. Kaki yang mulus bak pualam itu kini terlihat membiru dan baret-baret.

Bu Laras menceritakan perjalanan masa kecilnya yang diselingi dengan senyum manisnya. Aku ikut tertawa ketika ada cerita Bu Laras yang lucu. Dan kaloaku pikir..cerita apapun kalo Bu laras yang menceritakannya pasti jadi lucu dan menarik.

Tak terasa sore telah merambat. Untuk hari itu aku pamit dan aku berjanji akan datang kembali keesokan harinya bersama temen-temanku.

 

Pagi-pagi sekali aku sudah bergegas menuju sekolah. Mama sampai kalang kabut melihat aku yang terburu-buru dan tak sempat menyantap sarapan yang dibuat mama.

“Indah sarapan dulu sayang, jangan rusuh kayak gitu?”mama berkata.

” Ntar di sekoalh aja Bunda…..Aku cepet-cepet nih..” sahutku

“Ini nasi goreng kesukaanmu lho, Bunda sengaja buat untuk kamu”lanjut Mama

Aku sudah nggak sempet lagi denger ucapan mama. Aku langsung ke depan dan menyambar sepeda miniku.Kukayuh sepeda supaya sampai di sekolah lebih cepat. Aku ingin menceritakan keadaan sakitnya Bu Laras kepada teman-teman sekelasku.

Ups, hampir aku menabrak tiang yang berada bersebelahan dengan kelasku.

Sesampai di kelasku aku langsung menemui kerumunan teman-temanku. Aku ceritakan kejadian yang menimpa Bu Laras dengan lengkap. Mereka kaget.

“Sekarang bu Larasnya di rumah sakit mana?” sela Izan

“Trus kakinya patah nggak?” sela yang lainnya.

“Tenang teman-teman……Bu Laras nggak seperti yang kalian bayangkan. Bu Laras hanya kakinya yang bengkak dan lecet-lecet” jawabku

Spontan mereka berteriak: “O gitu”.

” Kok kamu kemarin negok Bu Laras nggak ngajak Aku sih” sela Hani.

“Maaf , kemarin aku terburu-buru ingin tahu kondisi Bu Laras” sahutku membela diri.

” Kapan dong kita kesana?nengokin Ibu kita itu” Izan berkata lagi.

“Ntar pulang sekolah gimana? Hani mengajak temen-temennya tuk menengok Bu Laras .

“Ayo….tap ikita mesti bawa apa? sahut Tantia.

“Gimana kalo kita bawa buah-buahan kesukaan Bu Laras?” sahut Izan

Akhirnya kami sepakat mau ke rumah Bu Laras siang nanti sambil mau membawa buah-buahan kesukaan Bu Laras.Rasanya pelajaran yang berlangsung hari itu lama banget terasanya. Sebentar kulihat jam …ah…baru pukul 11.00. Huh lama banget deh….

Akhirnya waktu yang dinanti-nati pun tiba. Bel waktu pulang akhirnya berbunyi juga. Kami langsung bersorak….kegirangan.

Kami langsung berkumpul buat ngumpulin uang untuk membeli buah-buahan. Setelah terkumpul kami langsung menuju mini market.Disana kami memilih buah-buahan kesukaan Bu Laras yang segar, langsung dikemas menjadi sebuah parcel buah kecil.

Kamipun langsung menggayuh sepeda menuju rumah Bu Laras. Setelah sekian waktu akhirnya sampai juga. Tapi kami heran kenapa rumah Bu Laras sepi……ah paling sedang istirahat. Lalu kami mencoba memasuki gerbang pintu masuk. Kami pijit bel berkali-kali tapi nggak ada yang nyahut, bahkan kelihatannya di rumah itu nggak ada orangnya.Tanpa bosen kuketuk lagi pintu rumah Bu Laras tapi tetep tanpa jawaban.

tak berapa lama tiba-tiba ada tetangga Bu laras lewat.

“Maaf Ade-ade cari siapa? Bu Laras? tanyanya.

“Iya Bu …”.kami serentak.

“Memang ade-ade nggak tau? sahutnya

“kenapa” sahut kami barengan.

“Bu Laras masuk rumah sakit, tadi malam” lanjut Dia

Hah………..

(Visited 24 times, 1 visits today)

2 thoughts on “GURUKU PERMATAKU

Tinggalkan Balasan