DIANTARA SAHABAT

Diantara Sahabat

​​​​​​Ai Sumartini Dewi

Sang surya baru menggeliat dari peraduannya  dan terlihat muncul di antara belahan Gunung Brengbreng. Burung-burung terdengar bernyanyi dengan sangat riangnya. Pagi itu udara sangat dingin. Tadi malam turun hujan dengan sangat derasnya. Terlihat pesawahan di sekelilingku hijau bak permadani. Pagi itu seperti biasanya aku sudah bersiap berangkat ke sekolah. Tas sudah aku gendong dan sarapan pun sudah selesai kulakukan. Aku memang selalu sarapan pagi karena jarak dari rumah nenekku ke sekolah cukup jauh.

“Hey ! “ Seseorang datang mengagetkanku.

Aku menoleh dan ternyata Ajeng sudah ada di belakangku. Kami memang selalu berangkat bersama. Rumah Ajeng lebih jauh dariku yaitu di kampung Nagrog.

“Hayu berangkat.” Kata Ajeng sambil menggandeng tanganku.

“ Hayu teh. “ Ujarku sambil berjalan di belakang Ajeng. Harap maklum karena jalan yang harus kulalui bersama Ajeng menuju sekolah adalah berupa pematang sawah. Jadi kamu harus berjalan beriringan. Sambil jalan Ajeng menceritakan kalau barusan sungai Cigadung meluap. Jadi dia agak kesulitan menyeberangnya.

“ Han tahu nggak, sungai Cigadung meluap loh .” Ujar Ajeng

“Masa teh?  terus Ajeng gimana nyeberangnya?” Tanyaku.

“ Diseberangin sama mang Oni.” Kata Ajeng.

Mang Oni itu seorang tukang bebek yang selalu mengembalakan bebeknya di sungai itu. Sesekali mang Oni juga membantu kalau-kalau ada yang mau melintasi sungai dan tidak bisa menyebranginya. Bahkan tak segan-segan juga kalau bebeknya bertelor banyak maka mang Oni pun suka membagikannya. Nyobain katanya.

“ Untung ada mang Oni ya teh” Kataku melanjutkan pembicaraan.

“ Iya Han.”.kata Ajeng.

“ Eh Ajeng , Nur kemana? “Tanyaku.

Nur adalah tetangga Ajeng yang kebetulan jadi adik kelas kami di SMP.

“Nur tidur di neneknya Han, katanya kemarin sebelum turun hujan dia main sama ibunya. Tetapi berhubung hujan semalam sangat deras jadi diutuskan untuk nginep di sana. Jadi kemungkinan sekolahnya langsung dari sana.” jawab Ajeng panjang lebar.

“Oh gitu teh, kirain sakit .” ujarku sambil menyingkirkan daun padi yang melilit betisku.

“ Nggak Han.” kata Ajeng.

Kami terus berjalan dan sesekali memilih jalan yang agak kering. Maklum sepanjang perjalanan ke sekolahku adalah pematang sawah,  jangan heran kalau kami sering  berjalan tidak pakai sepatu karena pematangnya sangat becek bekas hujan. Sepatu dari rumah kami jinjing atau dimasukkan ke dalam tas. Kami baru bersepatu kalau sudah mau sampai ke sekolah. Kebetulan sebelum sampai ke sekolah ada parit yang bisa kami gunakan airnya untuk mencuci kaki. Sambil berjalan kaki ngobrol tentang beberapa hal , misalnya tentang hobi, cita-cita bahkan keluarga. Dan di perjalanan teman-teman pun bertambah banyak dan akhirnya jadilah kami seperti untaian bunga yang sedang nerjalan di pematang. Sesekalikami bersenda gurau bahkan berhenti dulu di dagau bila terasa pegal kaki sambil membuka bekal dari rumah atau jajan di warung yang kami lewati.

Tak terasa karena kami berjalan sambil ngobrol, tibalah kami di parit yang tadi diceritakan. Ternyata di sana sudah banyak juga teman yang sedang mencuci kakinya .Aku dan Ajengar pun ikut bergabung dengan mereka mencari air dan batu yang agak landai untuk mencuci kaki. Lalu setelah bersih kupakaikan kaos kaki dan sepatu. Kami saling nunggu selesai bersepatu , baru beranjak naik menuju ke sekolah kami.

“ Ayo udah selesai Han ? kata Ajeng.

“ Iya teh, ni dah beres kok.” Kataku sambil me;angkah menuju tempat Ajeng berdiri.

“ Neni dah datang belum Han? Tanya Ajeng.

“ Sepertinya belum teh, tadi nggak lihat di bawah.” Jawabku.

“ Kenapa ya? Tumben ga ada. “Timpal Ajeng seolah-olah berbiacara dengan dirinya sendiri.

“ Nggak tahu teh, Apakah teteh nggak denger kabar dari teh Ika? Kan rumahnya deket sama Neni.” Ujarku sambil menatap Ajeng. Ajeng senyum sambil garuk-garuk kepala.

“ Iya juga ya, kenapa nggak nanya sama teh Ika kan rumahnya bersebelahan sama Neni.” Jawab Ajeng.

“ Ntar istirahat kita ke kelasnya teh Ika yu? Ajak Ajeng.

“ Kenapa nggak sekarang aja teh? Mumpung belum bel.” Kataku sambil berjalan menyusul langkah Ajeng.

“ Iya hayu , kita mampir sebentar ya. “ ujar Ajeng menunggu persetujuanku.Aku mengangguk sambil menjejeri langkah Ajeng ke kelasnya teh Ika yang jaraknya agak lumayan jauh. Kelas teh Ika berada di atas jadi harus naik tangga yang berada di bawah pohon plamboyan. Sedangkan kelasku berada di bawahnya.

Sesampainya di kelas teh Ika , Ajeng langsung mengedarkan pandangannya mencari teh Ika . Setelah nggak ketemu, maka langsung nanya ke temannya.

“ Hey Yan, lihat teh Ika nggak? Tanya Ajeng sambil penasaran.

“ Oh Ika lagi jajan ke kantin sama Uceu” jawab Yani

“ Mau nyusul atau nunggu? Tanya Yani balik.

“ Nyusul aja Yan, makasih ya…” ujar Ajeng sambil berjalan berjejeran sama aku menuju kantin. Sesampainya di kantin bener aja Teh Ika lagi jajan bareng Tita.

“ Hey Teh barusan aku sama Hani ke kelas ketemu Yani katanya teh Ika di kantin.” Ujar Ajeng. Teh Ika nengok sambil makan pisang goreng bikinan teh Engkom.

“Eh iya Jeng , kenapa nyari aku.” Tanya teh Ika penasaran.

“ Mau nanya Neni , kok nggak kelihatann? Ujar Ajeng.

“ Oh , Neni sakit Min, jadi nggak sekolah. “ ujar teh Ika. Aku dan Ajeng kaget.

“ Loh kemarin kan nggak apa-apa teh Ika? Tanyaku. Aku tahu betul karena kemarin kita pulang barengan bahkan sempet jajan cendol bareng di warung mang Oni.

“ Ya nggak tahu, tapi kata Abahnya Nen sakit panas.”jawab teh Ika.

“ Oh gitu, Makasih ya Teh” ujar aku dan Ajeng berbarengan.

“Ok sama-sama “ jawab teh Ika sambil ngelanjutin ngobrolnya sama Tita. Aku dan Ajeng kembali berjalan menuju kelas kita. Di perjalanan aku bilang,

“ Teh ntar pulangnya mampir yu ke rumah Neni.” Ujarku ke Ajeng.

“ Hayu sekalian penasaran aja sakitnya apa .” kata Ajeng menimpaliku.

Dan tak terasa kamipun sampai di depan kelas. Tak berapa lama pun terdengar bel lonceng dipukul oleh Pak Engkon Tiga kali yang menandakan bahwa semua siswa harus memasuki kelasnya masing-masing. Begitu pun aku dan Ajeng, kami langsung masuk kelas karena jam pertama adalah pelajaran matematika yang gurunya  tak pernah terlambat masuk kelas. Aku menuju kursi dudukku tepat di belakang Ajeng.

“Habis dari mana? “Ayi teman sebangkunya Ajeng nanya.

“ Dari kantin.” Jawab Ajeng singkat.

“ Tumben.” Kata Ayi sambil menunjukkan sinar mata yang penasaran.

“ Cari Teh Ika.” Ajeng masih menjawab dengan singkat. Saat itu pun tibalah guru Matematika datang sehingga Ayi urung untuk melanjutkan pertanyaannya ke Ajeng.

“ Pagi Anak-anak.” Sapa pak Herman ramah.

“ Pagi Pak.” Jawab anak-anak tak kalah semangat.

“ Baiklah , apakah kalian sudah berdoa? Sudah Pak jawab anak-anak serentak.

“ Siapa yang hari ini nggak masuk?” Tanya Pak Herman.

“Neni Pak.” kata Ajeng.

Ada surat nggak? Tanya pak Herman.

“ Belum Pak tapi kata tetangganya Neni sakit panas. Itu juga kata Abahnya.” Kata Ajeng.

“ Baiklah… kita lanjutkan pembelajaran pertemuan lalu, sampai apa materinya? Apakah kalian masih ingat?” Tanya Pak herman.

“Iya Pak , sampai teori phytagoras. “Jawab anak-anak.

“Apakah ada pekerjaan rumah? “Tanya pak Herman. Anak-anak terdiam sambil mengingat ngingat pelajaran matematika minggu lalu.

“ Saya rasa nggak ada Pak.” Kataku sambil membuka buku.

“ Ok Hani , Yu kita lanjutkan pelajaran hari ini. Dan pak Herman pun menjelaskan tentang teori phytagoras dengan panjang lebar diselingi anak-anak tanya jawab. Tak terasa bel istirahat pun dipukul mang Engkon. Dan anak-anak pun tersenyum bahagia karena nggak kebagian maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis.

“ Han mau jajan nggak?” tanya Ajeng. Sebelum aku menjawab Ajeng udah mengajak aku untuk jajan tik tuk di dekat kelas C. Dan aku pun mengikutinya tanpa banyak protes karena memang perutku sudah terasa lapar, cacing pun dah mulai bernyanyi minta diisi.

Sesampainya di tempat jajan itu pun sudah penuh oleh teman-teman yang mau jajan. Aku dan Ajeng pun  sabar mengantri demi untuk mendapatkan tiktuk yang ditaburi sambal kacang makanan pavoritku.

Tak berapa lama setelah makan tiktuk terdengar suara bel dipukul mang Engkon. Hal itu menandakan bahwa waktu istirahat kami telah selesai dan saatnya untuk masuk kelas mengikuti pelajaran berikutnya. Bawaan setelah makan, perut penuh,  mata terbawa suasana jadi ngantuk. Kutahan mata kantukku dengan sekuat tenaga dan nggak terasa bel pulang pun berbunyi. Kami segera menutup buku pelajaran barusan, Sang Ketua kelas memimpin kami berdoa untuk pulang.

Sebelum keluar kelas Ajeng mengingatkanku tentang ajakannya menengok Neni dan aku langsung mengiyakannya. Kami langsung kelur kelas dan menuju gerbang keluar sekolah berbarengan dengan teman-teman yang lain. Sepanjang perjalalanan kai ngobrol dengan teman-teman lain dan terdengar gelak tawa bersama.

“Mjeng , kok nggak ngelihat Neni? Tanya Asep sambil tangannya menepuk pundak Ajeng.

“ Ih kaget tahu, jawab Ajeng. “ Neni sakit katanya. Ajeng menambahkan.

“ Sakit apaan? Tanya Asep balik nanya.

“ Kata Ika sih sakit panas.” Jawab Ajeng kembali.

“ Oh paantes nggak kelihatan jajan.” Asep berbicara seperti untuk dirinya sendiri.

“Mau ikut nggak nengok Neni Sep? Tanya Ajeng.

“ Nggak ah, sieun ku Abahna. “ Jawab Asep sambil ketawa.

“ Hush . “ kata Ajeng.

Tak terasa kami dah sampai ke persimpangan jalan untuk menuju rumahnya Neni. Dan kami pamit kepada teman-teman yang lain.

“ Bener nih nggak ada yang mau ikut? “Tanya Ajeng kembali memastikan.

“ Nggak ah, salam aja semoga lekas sembuh gitu.” Ujar Asep sambil ketawa diikuti tawa teman-temannya. Aku dan Ajengar pun berbelok menuju jalan ke rumah Neni. Baru sampai teras rumahnya terlihat Abah lagi ambil wudlu mau solat duhur sepertinya.

“Asalamualaikum, Bah” Kami memberi salam berbarengan.

“Waalaikumsalam.” Jawab Abah sambil menyeka air di mukanya.

“Bah katanya Neni sakit? Sakit apa? “ Tanyaku.

“ Sakit panas dari semalam. Badannya menggigil .makanya sama abah dilarang pergi ke sekolah takut kenapa-kenapa di jalan.” Jawab abah panjang lebar.

“ Sekarang lagi tidur ya Bah?” Tanyaku.

“ Nggak barusan beres makan bubur. Sok sana masuk aja. Abah mau pergi ke tajug.” Ujar abah sambil melangkah menuju tajug di sebelah barat rumah Neni.

“Asalamualaikum, “ kami mengucapkan salam kembali menuju pintu depan.

“ Waalaikumsalam, terdengar suara ambu menjawab salam sambil membuka kunci pintu dan membukanya.

“Eh ada Hani dan Ajeng , sini masuk.” Kata Ambu

“ Iya ambu, kami masuk menuju ruang tengah.

Sana masuk kamar Neni aja, ada lagi tiduran. “ ujar Ambu.

Iya ambu jawab kami berbarengan.

Kami masuk menuju kamar Neni dan ternyata betul , Neni sedang terbaring lemah. Dia memaksakan untuk bangun tidur tapi kami melarangnya.

“ Nggak usah dipaksain bangun Nen.” Ujarku berbarengan dengan Ajeng.

“ Nggak apa-apa , udah mendingan sekarang.” Jawab Neni sambil duduk dan mengikat rambutnya.

“ Apa yang kerasa Nen? Kata Abah semalaman panas dingin ya? Kata Ajeng.

“Iya teh, ga tahu kenapa tiba-tiba panas dingin.” Neni menjelaskan.

“Sudah ke puskesmas? Tanyaku.

“ Sudah ke Pak Mantri tadi pagi, katanya flu berat.” Ujar Neni sambil melihat keluar kamar.

“Ambu ada Ajengar sama Hani” kata Neni

“ Iya sudah tahu, ini ambu lagi buat minum.” Ujar ambu. Nggak berapa lama ambu datang membawa nampan berisi air minum dan sepiring pisang goreng.

“Diminum ya… ni ambu barusan goreng pisang.” Kata Ambu.

“Wah ambu makasih, Tahu aja kesukaan hani. “ jawabku sambil menggoda Ambu. Ambu ketawa sambil pergi ke dapur lagi.

“ Ambu mau ngambil apa lagi?” kataku becanda.

“ Mau ngambil cucian buat Hani” kata Neni sambil ketawa. Kami memang suka bercanda karena kami memang sering main ke rumah Neni. Bahkan kalau musim jambu kami suka naik pohonnya untuk ngambil jambu yang matang sendiri.

Tak terasa hari sudah hampir sore dan kami pamit ke Neni, Abah, dan Ambu untuk pulang.

Abah, Ambu, Nen kami pulang dulu ya….Cepet sembuh “ kami pamit berbarengan.

Iya , hati-hati. Kirain mau nginep.” Kata Ambu.

Nggak Ambu kan besok sekolah.Neni istirahat aja jangan sekolah dulu biar pulih banget. Kata Ajeng panjang lebar.

“Iya Ajeng, Han, Makasih ya dah ditengokin.” Kata Neni sambil mencoba untuk berdiri.

“Ih jangan berdiri-diri dulu.” Ujarku.Ini pasien teh bandel ya kataku sambil tertawa.

Neni nyengir sambil duduk lagi. Kami pun keluar menuju pulang.

“ Eh Nen ada salam dari Asep, katanya cepet sembuh. Sepi nggak ada Neni.” Aku berteriak dari luar. Dan terlihat Neni mengepalkan tangan . Dan kami tertawa. Aku dan Ajengar berjalan di pematang sawah menuju rumah masing-masing. Padi tampak menghijau dan burung pun berterbangan mengiringi sang surya menuju peraduannya.

 

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan