Belajar di Masa Pandemi_Nurul Fitriani9G_SMPN 1 Cibogo

WhatsApp-Image-2021-04-04-at-20.55.45-2.jpeg

Sinar matahari pagi yang menembus jendela membuat penglihatan sedikit silau. Anetha membuka gorden kamarnya serta jendelanya. Ia menghirup udara dipagi hari yang masih sangat sejuk. Ia meraih tas sekolahnya yang terletak diatas meja belajar. Kakinya melangkah keluar kamar dan menemui seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian rumahan. Anetha mengulurkan tangannya untuk berpamitan ke sekolah.

Anetha diantar oleh Ayahnya menggunakan sepeda motor. Ketika sampai didepan gerbang sekolah, Anetha tak lupa berpamitan juga dan meminta doa kepada Ayahnya agar kegiatan di sekolahnya ini dapat menambah ilmu bagi dirinya. Sehabis berpamitan Anetha memasuki area sekolah yang sudah mulai ramai oleh murid disana. Ia melewati beberapa koridor dan koperasi sekolah. Sepanjang jalan menuju kelasnya Anetha tak lupa memberikan seulas senyuman kepada siswi yang ia temui.

Kakinya melangkah memasuki ruangan kelas yang bertuliskan Kelas VIII-G. Ditaruhnya tas gendong itu diatas meja. Anetha mengeluarkan topi untuk bersiap upacara hari Senin. Ia keluar kelas dan duduk di koridor bersama teman-temannya yang lain. Mereka mengobrol dan bercanda sampai tak terasa sirine berbunyi dengan kerasnya. Seluruh murid di sekolah itu langsung melangkahkan kaki mereka menuju lapangan.

Dikarenakan tinggi badan Anetha yang kurang tinggi, ia jadi berbaris dibarisan belakang. Sepanjang upacara, Anetha hanya diam dan sesekali menguap serta mengelap keringat yang mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Ketika bagian amanat, semua murid nampak tenang tak ada kegaduhan.

“Baik, Assalamualaikum semuanya… Bapak disini ingin memperingati kalian akan virus yang sedang marak saat ini. Yaitu virus Covid-19, bapak yakin kalian semua sudah tahu dengan kasus virus ini. Dikarenakan, di wilayah kita yang terkena kasus ini lumayan banyak maka sekolah akan diliburkan selama empat belas hari. Untuk apa? Untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing,” Jelas seorang bapak pembina upacara selaku kepala sekolah di sekolah kami.

Ketika mendengar pengumuman tentang sekolah diliburkan sebagian siswa nampak bersorak kegirangan. Namun tidak dengan Anetha. Hatinya merasa sedih, karena Minggu belakangan ini sekolah kami akan melakukan suatu kegiatan, yaitu Pekan Kreasi Siswa. Anetha dan teman-teman yang lainnya sudah berlatih keras sampai jam pulang sekolahnya terlambat. Namun ternyata sekolah malah diliburkan. Ia berharap ini benar-benar hanya empat belas hari, tidak lebih.

“Hadeuh, enak gak enak ya sekolah diliburkan,” keluh Julia salah satu teman Anetha dan sekaligus teman sebangkunya.

“Iya benar, padahal kita udah latihan buat hari besok, eh malah libur,” timpal temannya yang lain. Anetha hanya diam dikursinya sambil menatap lurus kedepan. Ia memasukkan peralatan tulisnya kedalam kantung sekolahnya. Karena hari ini berbeda dengan hari yang lainnya, semua murid dipulangkan lebih dulu. Anetha dan Julia keluar kelas bersamaan dengan wajah yang tertekuk masam. Mereka melangkah menuju koperasi sekolah untuk membeli minuman dingin agar sedikit menyegarkan. Mereka berdua tak langsung pulang, melainkan menunggu temannya yang lain.

Anetha, Julia dan Ansel berjalan beriringan keluar gerbang sekolah dibantu oleh seorang penjaga sekolah untuk menyebrang. Mereka bertiga berjalan tidak semangat setelah mendengar pengumuman tadi.

Anetha sendiri berkali-kali mendengus sebal. Ia menghentakkan kakinya lantaran di pukul 09.00 ini cuacanya sudah sangat panas sekali. Berkali-kali ia mengelap keringat yang membasahi pelipisnya. Begitu pun dengan Julia dan Ansel melakukan hal serupa. Mereka berjalan pulang dengan obrolan-obrolan kecil dan tertawaan yang keluar dari mulut mereka.

“Eh, duluan ya! Kalian hati-hati jangan sampai nabrak!” seru Julia diakhiri dengan tawaan kecil dan langsung masuk kedalam gang rumahnya. Kini tinggal Anetha dan Ansel berdua. Mereka menyusuri jalanan beraspal dibawah terik matahari yang sangat menyengat kulit.

Kakinya melangkah pelan memasuki pekarangan rumah yang tidak begitu luas. Tangan mungil itu membuka gagang pintu dengan hati-hati. Anetha masuk kedalam rumah tak lupa mengucapkan salam. Ketika ia ingin memasuki kamarnya tiba-tiba ibunya datang karena merasa aneh anaknya sudah pulang.

“Loh, kok udah pulang?” tanya Ibunya heran.

“Iya, sekolah diliburin jadi pulang awal,” jawab Anetha lesu.

“Oh yaudah…” Ibu Anetha melenggang pergi begitu saja ke dapur, dan Anetha masuk kedalam kamarnya.

Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk dan memejamkan mata sejenak. Anetha bangun dan langsung mengganti seragam sekolahnya dengan baju rumahan biasa. Ia duduk di kursi tempat belajarnya serta handphone yang ia pegang. Anetha membuka beberapa sosial media dan mendapati berita jika hampir seluruh sekolah diliburkan karena kasus Covid-19 ini. Ia meletakkan ponselnya dan pergi keluar kamar untuk menonton televisi.

Anetha menonton satu chanel tv yang memberitakan virus yang sedang ramai ini. Ia mengganti saluran tv nya, namun semua acaranya sama. Membahas tentang kasus Covid-19. Anetha meletakkan remote diatas meja. Dari berita yang muncul, Anetha menyimpulkan jika kasus Corona ini sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak dan lansia. Anetha jadi merinding sendiri.

Ia menghampiri Ibunya yang berada di dapur.

“Bu, ternyata kasus covid ini bahaya banget ya,” ujar Anetha.

“Iya, makannya kita harus jaga kebersihan dan kesehatan. Kalau mau berpergian wajib memakai masker, dan jangan lupa mencuci tangan. Harus berdoa juga supaya kasus ini segera berakhir, jadi kita bisa beraktivitas dengan bebas,” jelas Ibunya Anetha memberitahukan.

Anetha sendiri hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Langit yang gelap menunjukkan jika hari telah malam. Anetha duduk diatas tempat tidurnya sambil memegang ponsel. Ia mendapati notifikasi dari grup kelasnya jika sekolah akan tetap dilaksanakan secara daring, atau PJJ, Pembelajaran Jarak Jauh. Daring ini dilakukan melalui aplikasi WhatsApp dan Classroom yang sudah diarahkan oleh Bapak/Ibu guru. Anetha menghela nafasnya berat, diletakkannya ponsel tersebut diatas nakas. Tangan Anetha meraba sakelar lampu dipinggir tempat tidurnya dan ia pun terlelap.

Suara ayam berkokok itu terdengar begitu jelas ditelinga Anetha yang matanya masih terpejam. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan terbangun dari tidurnya. Ia menyalakan lampu kamarnya dan meraih ponsel. Pukul 04.30. Itu artinya sudah masuk waktu subuh. Kakinya turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Ketika ia ingin memasuki kamar mandi, Anetha disapa oleh Ayah dan Ibunya yang sudah bangun lebih awal. Anetha hanya tersenyum dan langsung berwudhu untuk melaksanakan shalat subuh.

Sehabis shalat, Anetha membereskan mukena dan sajadah lalu ia keluar kamar untuk membantu Ibunya beres-beres. Sampai pagi hari tiba, Ayah Anetha harus berangkat bekerja. Tak lupa Ibu dan Anetha mencium punggung tangan Ayah yang hendak meninggalkan rumah itu. Anetha memasuki kamar dan mengganti pakaiannya menggunakan seragam sekolah. Karena mebrut informasi di grup kelas semalam, siswa harus tetap memakai seragam agar seperti sekolah pada umumnya.

Ia duduk di kursi tempat belajarnya dan menyiapkan buku pelajaran serta ponsel untuk melakukan kegiatan daring. Ibunya Anetha masuk kedalam kamar dan membuat segelas susu cokelat kesukaannya.

“Biar daringnya semangat!” seru Sang Ibu dengan tangan kanan yang mengangkat keatas.

“Makasih, ma,” ujar Anetha dengan seulas senyum diakhir katanya.

Anetha meneguk setengah dari susu tersebut dan kembali menatap layar ponselnya karena daring akan dilaksanakan lima menit lagi. Ini pertama kalinya bagi ia dan teman-temannya melakukan sekolah secara online dan hanya bisa bertatap muka lewat layar handphone. Satu buah bubble chat masuk dan itu merupakan pesan dari guru mata pelajaran hari ini yang memerintahkan agar semua murid dapat berdoa sebelum memulai pembelajaran.

Tak lama kami semua diperintahkan untuk mengisi daftar hadir dengan rapih. Anetha melakukan daring dihari pertama nya dengan penuh semangat. Ia tak ingin kelihatan sedih karena harus belajar dapat bertanya langsung pada guru.

Selama proses daring tersebut, guru yang mengajar memberikan tanya jawab yang harus dijawab melalui voice note atau pesan suara. Agar mendapatkan nilai yang bagus, kami seisi kelas saling menyusul untuk menjawab pertanyaan dengan benar. Walaupun beberapa dari kami tidak menjawabnya dengan benar, namun tetap diberikan nilai. Daring hari ini cukup dua pelajaran saja, dan dilanjutkan esok hari.

Pukul 11.00 WIB

Anetha menaruh ponselnya dan mengganti seragamnya karena merasakan gerah. Ia keluar kamar untuk makan siang.

“Gimana daring hari ini? Lancar kan?” tanya sang Ibu

“Lancar ma, ya cuman gitu… Kurang asik karena gak bisa ngobrol langsung sama teman,” jawab Anetha lesu.

“Ya, sabar aja. Semoga daring ini tidak berkelanjutan, jadi kamu sama teman-teman bisa kumpul lagi seperti biasa,” tutur Ibunya begitu ramah dan menyiapkan makanan diatas meja makan untuk anak kesayangannya itu. Anetha memakannya dengan lahap tanpa sisa. Ia meraih gelas berisikan air putih dan menghabiskannya. Perutnya itu nampaknya terlalu kekenyangan. Disandarkannya punggung Anetha ke kursi. Ia mendengar suara adzan Dzuhur berkumandang, dengan segera Anetha membereskan piring bekas makannya dan mencucinya. Ia langsung mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.

Hari demi hari berlalu…

Tak terasa jika PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh ini sudah dilaksanakan selama sebulan, dan sebentar lagi Anetha akan menaiki kelas yang lebih tinggi. Ia melakukan ulangan secara online melalui google form yang sudah diberi arahan oleh guru wali kelasnya. Tiap menjelang malam, Anetha selalu belajar dan menghafal untuk persiapan ulangan agar nilainya tetap bagus meskipun di musim pandemi ini. Dan hari yang ditunggu telah tiba. Ini hari pertama Anetha ulangan, ia melakukannya dengan jujur tanpa menyontek kepada teman-temannya. Anetha juga merasa semua soal ulangan sudah ia pelajari didalam buku.

Ia ulangan kurang lebih satu minggu dengan beberapa soal yang sedikit membingungkan. Seperti matematika, fisika dan bahkan pelajaran bahasa yang ia tidak mengerti. Saat ini hari pembagian raport dan hanya orang tua siswa/siswi yang diperbolehkan datang ke sekolah untuk menerima raport. Anetha berdiam diri di rumah dengan perasaannya yang campur aduk. Ia takut jika nilai raportnya jelek. Namun ia tetap percaya diri dan berharap mendapatkan peringkat dari lima besar.

Ketika Anetha hendak keluar kamar ia melihat Ibunya baru saja tiba dari sekolah dengan menenteng raport ditangan kirinya. Ibunya tersenyum hangat kepada anak perempuannya itu.

“Kamu masuk tiga besar, Net, peringkat pertama” ucap Ibunya bangga kepada Anetha.

Anetha yang mendengar hal itu ikut bahagia dan langsung memeluk Ibunya. Ia tak nyangka jika dirinya mendapatkan peringkat pertama. Anetha fikir di musim pandemi ini, semua rata-rata nilai sama. Atas apa yang dilakukan Anetha selama ini, yaitu belajar dari malam kemudian dilanjutkan ke pagi hari akhirnya membuahkan hasil. Ia melihat nilai-nilai raportnya yang sangat bagus. Sebuah seulas senyuman itu terpatri diwajah cantik Anetha.

Ia berfikir, dijaman-jaman sekarang, apalagi dimusim Covid-19 ini dirinya harus banyak belajar agar tidak kalah saing dengan murid-murid yang lain dan bisa menyeimbangkan. Anetha juga masih harus bersabar agar kasus ini segera berakhir, supaya ia dapat kembali bertemu dengan teman-teman sekolahnya, dan melakukan kegiatan dengan bebas tanpa ada rasa takut.

 

 

 

 

(Visited 20 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan